ETIKA
PROTESTAN DAN SPIRIT KAPITALISME
Sebuah
Pengantar
Oleh;
Muhammad Zunus
Buku karya
Max Weber The Protestan Ethic and Spirit
of Capitalism (Die Protestan Ethik
Under Giest Des Kapitalis) terbit tahun 1920, sesaat setelah kematiannya.
Bukun ini pada awalnya hanya berupa artikel dua bagian di jurnal ilmiah Archiv fur Sozialwissenschaft und Sozialpolitik [1904-1905].
Buku ini
menarik dan menjadi perdebatan senggit yang melibatkan tokoh-tokoh besar karena
Weber sendiri mampu mengungkap fakta-fakta otentik seputar agama kaitanya
dengan perkembangan kapitalisme. Selain itu buku ini hadir pada periode penting
setelah Weber pulih dari sakit depresi yang dialaminya selama empat tahun yang
sempat membuatnya tidak mampu menghasilkan karya-karya akademis.
Untuk
memahami gagasan dalam buku ini setidaknya membutuhkan dua aspek keadaan yang
melatarbelakangi arus pemikiran. Pertama, iklim intelektual dan kedua, jaringan
antara karya itu sendiri dengan program studi dalam fase kedua karir penulis
[karakteristik kapitalisme].
Pada abad ke
19 perkembangan filsafat, teori politik dan ekonomi di Jerman bertolak belakang
dengan perkembangan yang ada di Inggris. Dominasi pengetahuan ekonomi politik
klasik dan utilitarianisme di Inggris tidak mampu direproduksi di Jerman sebab
dihambat oleh pengaruh Idealisme dan Marxisme. Di Inggirs System of Logic [1843] karya Jhon Stuart Mill yang merupakan
pengikut ajaran positivime Comte mampu memberikan sumbangsih besar atas
penyatuan ilmu-ilmu sosial dan ilmu alam dalam kerangka tradisi negara itu.
Sementara di Jerman logika itu tidak berkembnag karena muncul pandangan –ini
terkait dengan hermeniotik- diferensiasi antara ilmu-ilmu alam dari studi
tentang manusia. Perilaku manusia sangat penuh makna sehingga harus
diinterpretasikan atau dipahami dengan cara sedemikian rupa.
Pemaknaan terhadap Kapitalisme dan
Pengaruhnya
Dalam upaya
merinci karakteriktik penentu kapitalisme modern, Weber terlebih dahulu
memisahkan antara perusahaan kapitalistik dengan upaya [hasrat] mendapat
kapital. Hasrat mendapat kekayaan adalah sesuatu yang alamiah, terjadi hampir
di semua peradaban dalam kurun waktu yang hampir bersama. Meski demikian hasrat
tidak selalu terkoneksi dengan karakter hakiki kapitalisme.
Kapitalisme
dalam bentuk operasi-operasi perdagangan sudah terjadi sejak abad pertengan,
tetapi baru menemukan momentumnya sejak kebangkitan peradaban Barat. Hal ini
terjadi karena pergeseran terhadap pemaknaan “perdagangan” dan transformasi
pengetahuan. Aktivitas kapitalistis diasosiakan sebagai organisasi rasional
buruh yang merdeka, dalam artian adminstrasi yang terukur secara kontinu. Perusahaan
kapitalistis rasional merujuk pada dua hal; tenaga kerja yg disiplinkan dan investasi
kapital yang diregulasi. Inilah yang menjadi dasar pembeda dengan karakteristik
aktivitas ekonomi tradisional.
Pengaruh
signifikan dari transformasi tradisional ke ekonomi modern melahirkan
kedisiplihan yang tinggi dan pada akhirnya melahirkan konsekuensi-konsekuensi.
Misalnya, majikan yang ingin meningkatkan produktivitasnya mereka akan
memberikan piece rates [bonus] kepada
karyawan. Dengan aturan ini para pekerja akan mendapatkan insentif lebih. Namun
harus diakui, konsekuensi ini tidak selamanya berjalan dengan baik dan sesaui
harapan majikan, sebab para pekerja terlebih yang hasratnya standar justru akan
bekerja dengan lamban dari biasanya. Itu bisa saja karena mereka tidak tertarik
memaksimalkan penghasilan. Fenomena serupa juga terjadi pada orang-orang kaya
[pemilik modal] dalam berbagai bentuk masyarakat. Mereka yang medapat
keuntungan dari perusahaan hanya sekadar mencari uang untuk digunakan pada
hal-hal umum; membeli kebutuhan; kesenangan; dan kekuasaan. Reproduksi kapital
secara regular yang melibatkan investasi dan reinvestasi secara kontinu untuk
tujuan efisiensi ekonomi terasa kurang familiar bagi perusahaan-perusahaan
tradisional.
Menurut
Anthony Giddens, esensi dari spirit kapitalisme Weber bisa diberakatkan dari
sifat manusia yang didominasi keinginan mendapat uang melalui akuisisi
sebagai tujuan utama hidupnya. Akuisisi ekonomis inilah yang kemudian tidak
lagi menjadi subordinat bagi cara-cara manusia memuaskan kebutuhan materinya.
Menjadi
rumus tanya, apa yg dijelaskan dari kondisi historis seseorang berhasrat
mengumpulkan kekayaan tapi dengan ketiadaan kepentingan atas kesenangan
duniawi? Tanya ini yang pada askhirnya menghatarkan pada konsep etika
protestan.
Menurut
Weber, keliru jika ada yang menyatakan bahwa hasrat mendapat kekayaan berasal
dari pengenduran nilai-nilai moralitas. Pandangan ini berdasar atas moral itu
sendiri, yang menuntut adanya disiplin diri sendiri. Para pengusaha yang
diasosiasikan dengan pengembangan kapitalisme rasional justru memadukan
akumulasi kekayaan dengan gaya hidup hemat secara positif.
Weber
menemukan jawab ini dari This wordly
asceticism [tapa brata duniawi dari puritanisme]. Asketis ini difokuskan
melalui konsep calling
[sinyal/panggilan] yang lahir dari semangat reformasi gereja. Calling merujuk pada ide awal bahwa
bentuk tertinggi dari kewajiban moral bagi individu adalah memenuhi
tugas-tugasnya dalam urusan duniawi, meminjam istilahnya Kang Sobari sebagai
kesalehan sosial.
Istilah calling ini tidak ditemukan sebelumnya
dalam lingkungan Khatolik atau zaman purba, melainkan hanya ditemukan di
lingkungan Protestan. Martin Luther adalah orang yang mengembangkan konsep ini
pada dekade pertama dari aktivitasnya sebagai reformator.
Lebih jauh,
Weber menjelaskan bahwa arti penting dari konsep panggilan dalam agama
protestan adalah untuk membuat urusan-urusan
biasa dari kehidupan sehari-hari berada dalam pengaruh agama.
“panggilan” bagi seseorang adalah suatu usaha yang dilakukan untuk melaksanakan
kewajiban-kewajibanya terhadap Tuhan, dengan cara perilaku yang bermoral dalam
kehidupan sehari-harinya. “panggilan” merupakan suatu cara hidup yang sesuai
dengan kehendak Tuhan, dengan memenuhi kewajiban yang telah dibebankan kepada
dirinya sesuai dengan kedudukanya di dunia. “panggilan” adalah konsepsi agama
tentang suatu tugas yang telah ditetapkan Tuhan, suatu tugas hidup, suatu
lapangan yang jelas di mana seseorang harus bekerja.
Namun
demikian, bagi Weber, panggilan sebagaimana dipahami oleh Luther masih tradisionalistis.
Hal ini terutama berdasarkan penekananya yang kuat terhadap unsur nasib [takdir]
di mana seseorang tetap berada pada tempatnya sesuai dengan apa yang telah
ditetapkan Tuhan. Dengan demikian, maka tidak mungkin bagi Luther untuk
mengembangkan hubungan yang fundamental antara aktivitas duniawi dengan
prinsip- prinsip keagamaan. Akan tetapi dengan konsep itu paling tidak Luther
telah meletakan dasar yang kuat bagi pengembangan konsep tersebut selanjutnya.
Dalam
perkembangannya doktrin takdir ini mengalami perkembangan, terlebih pada ajaran
Calvinsime. Menurutnya hanya beberapa orang yang terpilih yang bisa
terselamtkan dari kutukan dan pilihan itu sudah ditetapkan jauh sebelum
Tuhan. Alhasil muncul dua konsekuensi
perkembangan yakni pertama, seseorang diwajibkan meyakini diri sendiri sebagai
“orang terpilih” sehingga kurangnya keyakinan dipadang sebagai indikasi
kurangnya iman. Kedua: performa kerja yang baik. Oleh karena itu kesuksesan calling dianggap sebagai sinyal/tanda
[bukan alat] untuk menentukan apakah orang itu dipilih atau tidak. Jika
seseorang berhasil dalam kerjanya (sukses) maka hampir dapat dipastikan bahwa
ia ditakdirkan menjadi penghuni surga, namun jika sebaliknya kalau di dunia ini
selalu mengalami kegagalan maka dapat diperkirakan seorang itu ditakdirkan
untuk masuk neraka.
Doktrin
Protestan yang kemudian melahirkan karya Weber tersebut telah membawa implikasi
serius bagi tumbuhnya suatu etos baru dalam komunitas Protestan, etos itu
berkaitan langsung dengan semangat untuk bekerja keras guna merebut kehidupan
dunia dengan sukses. Ukuran sukses dunia [standarnya dalah kebahagian materi]
juga merupakan ukuran bagi sukses di akhirat. Meski begitu, dan ini yang
penting, akumulasi kekayaan dibolehkan sejauh dikombinasikan dengan karir besar
dan upaya yang sunggung-sungguh. Dikecam jika hanya dilakukan untuk menopang
kehidupan mewah dan bermalas-malas.
Dengan kata
lain, kapitalisme modern menuntut untuk membatasi konsumsi untuk membatasi
konsumsi supaya uang yang ada itu dapat di investasikan kembali dan untuk
pertumbuhan modal, menuntut kesediaan untuk tunduk pada disiplin perencanaan
yang sistematis untuk tujuan-tujuan
dimasa mendatang, bekerja secara teratur
dalam suatu pekerjaan dan sebagainya. Penjelasan ini memperllihatkan
hubungan yang saling mendukung antara etika protestan dan semangat kapitalisme.
Fakta
Otentik dan Penyebabnya
Sisi lain
manariknya buku The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism adalah Weber mampu
mengawali tulisannya dengan menghadirkan fakta-fakta otentik terkait
stratifikasi sosial kaitannya dengan komposisi agama yang beraneka ragam. Ada
fakta yang dikemukakan Weber dan para elit agama bahwa pemimpin bisnis dan
pemilik modal maupun pekerja perusahaan yang berkualitas, staf ahli yang
terdidik ternyata kebanyakan dari penganut Protestan. Hal ini, kata Weber bisa
di runut dari historisitas masyarakat, dan upaya membebaskan sistem ekonomi
tradisional yang tentunya juga meragukan kesucian tradisi-tradisi agama.
Di luar itu,
ada juga fenomena lain yang tidak bisa dijelaskan dengan cara yang sama, di
mana di beberapa kawasan seperti Baden, Bavaria, Hugaria muncul kenyataan bahwa
terdapat banyak orang Katholik yang memberikan pendidikan tinggi kepada
anak-anak mereka. Meski begitu presentasinya masih kalah jauh dengan
orang-orang Protestan. Orang-orang Khatolik lebih menyukai pelatihan [training]
dibandingkan dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Padahal semua orang
tahu bahwa setiap perusahaan modern membutuhkan karyawan yang memiliki
keunggulan skill dengan jumlah besar.